Kemdiktisaintek Ungkap 67 Persen Kampus RI Masih Akreditasi C

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkap mayoritas perguruan tinggi di Indonesia hingga akhir 2025 masih berada pada kategori akreditasi “Baik” atau setara C. Dari total 4.416 perguruan tinggi terdaftar, hanya sekitar 6 persen yang berhasil meraih akreditasi “Unggul” atau A.
Data tersebut disampaikan Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 yang digelar secara daring di Jakarta. Ia menyebut sekitar 67 persen perguruan tinggi nasional masih berada di level akreditasi Baik atau C, sementara sisanya tersebar pada kategori Baik Sekali dan Unggul.
Akreditasi perguruan tinggi sendiri masih mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi. Dalam aturan tersebut, peringkat akreditasi dibagi menjadi tiga kategori utama, yakni Baik (C), Baik Sekali (B), dan Unggul (A).
Tak hanya di tingkat institusi, ketimpangan kualitas juga terlihat pada program studi. Dari total 33.741 program studi di Indonesia, baru sekitar 22 persen yang memiliki akreditasi Unggul. Kemdiktisaintek bahkan menemukan masih ada program studi yang belum terakreditasi, padahal secara aturan program tanpa akreditasi tidak berhak menerbitkan ijazah.
Menurut Najib, rendahnya kualitas akreditasi ini menjadi tantangan serius bagi peningkatan daya saing pendidikan tinggi nasional. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan minimnya lulusan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang saat ini baru mencapai 18,47 persen di Indonesia.
Angka itu masih tertinggal dibanding sejumlah negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura yang memiliki proporsi lulusan STEM lebih tinggi. Akibatnya, Indonesia dinilai masih kekurangan tenaga kerja berkeahlian tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri modern dan investasi teknologi.
Kemdiktisaintek menilai perbaikan kualitas perguruan tinggi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan mutu dosen, penguatan riset, hingga penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi. Pemerintah juga terus mendorong transformasi pendidikan tinggi agar lebih adaptif menghadapi bonus demografi dan persaingan global.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.
