
Perekonomian Indonesia dinilai masih cukup tangguh menghadapi tekanan global meski berbagai risiko eksternal mulai membayangi pertumbuhan nasional sepanjang 2026. Sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding banyak negara berkembang lainnya, terutama dari sisi konsumsi domestik, investasi, dan stabilitas sektor keuangan.
Ekonom CORE Indonesia Radhika Rao memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 kemungkinan menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Namun, aktivitas ekonomi diprediksi menghadapi tantangan lebih besar pada semester berikutnya akibat gejolak harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta tekanan terhadap fiskal pemerintah.
Tekanan global dalam beberapa bulan terakhir memang semakin meningkat, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan nilai tukar rupiah. Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS akibat kombinasi sentimen global dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia menilai kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang terkendali. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyebut ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah gelombang ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan Indonesia belum membutuhkan bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) karena kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih memiliki bantalan fiskal yang cukup besar. Pemerintah mengklaim saldo anggaran lebih atau SAL masih berada di kisaran Rp420 triliun sebagai buffer menghadapi krisis global.
Selain fiskal, realisasi investasi juga masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kementerian Investasi mencatat realisasi investasi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai Rp498 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari investor asing. Capaian tersebut dinilai menjadi indikator bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih cukup terjaga.
Namun sejumlah pengamat mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada intervensi moneter. Pelemahan rupiah, tingginya impor energi, hingga tekanan subsidi disebut menjadi tantangan struktural yang perlu segera dibenahi pemerintah agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dalam jangka panjang.
Di tengah kondisi tersebut, konsumsi domestik dan proyek hilirisasi industri masih dipandang sebagai motor utama penopang ekonomi nasional. Pemerintah berharap kombinasi stabilitas fiskal, investasi, dan penguatan sektor riil mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif hingga akhir tahun.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.
