
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membongkar dugaan praktik manipulasi harga ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang melibatkan sejumlah eksportir besar, termasuk Wilmar dan Musim Mas. Pemerintah menilai praktik tersebut berpotensi mengurangi penerimaan negara dan devisa hasil ekspor.
Purbaya menjelaskan modus yang digunakan berupa under invoicing atau pelaporan nilai ekspor lebih rendah dibanding harga sebenarnya di pasar internasional.
Praktik tersebut diduga menyebabkan berkurangnya kewajiban pajak dan devisa yang seharusnya masuk ke dalam negeri. Pemerintah kini memperkuat sistem pengawasan ekspor komoditas strategis untuk menutup celah manipulasi perdagangan.
Indonesia sebagai eksportir sawit terbesar dunia sangat bergantung pada sektor CPO dalam menopang devisa negara dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi menilai praktik manipulasi harga ekspor menjadi tantangan serius karena berdampak langsung terhadap penerimaan negara dan kredibilitas tata kelola perdagangan internasional Indonesia.
Pemerintah juga disebut tengah menyiapkan sistem pengawasan ekspor baru melalui PT Data Sistem Indonesia (DSI) untuk memantau transaksi komoditas strategis secara lebih ketat.
Di sisi lain, pelaku industri berharap pengawasan baru tetap menjaga kepastian usaha dan tidak menghambat daya saing ekspor sawit Indonesia di pasar global.
Pemerintah memastikan penindakan terhadap dugaan pelanggaran akan dilakukan berdasarkan data perdagangan dan audit yang valid.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.
