PT Bumi Resources Tbk Mulai Fokus Tambang Emas, Sahamnya Masih Babak Belur di 2026

Emiten tambang raksasa PT Bumi Resources Tbk resmi memulai transformasi besar dalam model bisnisnya dengan mengalihkan fokus dari batu bara ke sektor tambang emas dan tembaga. Namun di tengah strategi ekspansi tersebut, kinerja saham perseroan justru masih tertekan dan belum menunjukkan pemulihan signifikan di pasar modal.
Langkah strategis ini diumumkan seiring perubahan struktur pemegang saham dan arah bisnis perusahaan. Berdasarkan data per 31 Maret 2026, BUMI kini berada di bawah kendali Mach Energy (Hongkong) Limited yang menguasai sekitar 45,78 persen saham. Perubahan ini menjadi titik awal pergeseran besar dari ketergantungan pada batu bara menuju komoditas mineral bernilai tinggi seperti emas dan tembaga.
Transformasi ini bukan sekadar wacana. Manajemen mulai mengalokasikan belanja modal (capex) secara agresif untuk pengembangan tambang emas, terutama melalui anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk. Fokus utama diarahkan ke proyek tambang bawah tanah yang diharapkan mampu menghasilkan arus kas stabil dalam jangka panjang.
Salah satu proyek kunci berada di bawah pengelolaan PT Citra Palu Minerals, yang saat ini tengah meningkatkan kapasitas pengolahan emas secara signifikan. Dari sebelumnya hanya 200 ton per hari, kapasitas ditargetkan melonjak menjadi 500 ton per hari. Peningkatan ini diharapkan mampu mendorong produksi dan memperkuat kontribusi pendapatan perusahaan ke depan.
Namun, di balik agresivitas ekspansi tersebut, kondisi saham BUMI justru belum pulih. Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan sahamnya masih berada dalam tekanan, bahkan analis mencatat adanya level support rendah yang mencerminkan lemahnya sentimen pasar terhadap emiten ini.
Tekanan terhadap saham tidak lepas dari langkah restrukturisasi internal yang dilakukan perusahaan. Dalam upaya membersihkan neraca keuangan, anak usaha BUMI melakukan penghapusan aset tidak produktif, termasuk proyek bauksit senilai sekitar USD6,47 juta. Selain itu, pelepasan peralatan lama oleh unit operasional juga menyebabkan pencatatan kerugian jangka pendek sebesar USD7,37 juta.
Langkah ini memang dianggap penting untuk efisiensi jangka panjang, namun berdampak langsung pada laporan keuangan dan persepsi investor dalam jangka pendek. Pasar cenderung merespons negatif terhadap kerugian akuntansi, meskipun tujuan utamanya adalah memperbaiki fundamental perusahaan.
Di sisi lain, prospek bisnis emas sebenarnya sedang berada dalam momentum positif. Harga emas global yang terus menguat dan statusnya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi membuat sektor ini menjadi incaran banyak perusahaan tambang.
BUMI sendiri telah mengambil langkah lebih jauh dengan mengakuisisi aset tambang di luar negeri, termasuk proyek di Australia yang diproyeksikan mulai beroperasi pada 2026 dengan fokus produksi emas dan tembaga. Langkah ini memperkuat strategi diversifikasi global perusahaan.
Meski demikian, tantangan terbesar BUMI saat ini adalah membuktikan bahwa transformasi tersebut dapat menghasilkan kinerja nyata. Investor masih menunggu bukti bahwa peralihan ke sektor emas benar-benar mampu menggantikan kontribusi besar dari bisnis batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan.
Situasi ini mencerminkan fase transisi yang tidak mudah. Di satu sisi, BUMI mencoba keluar dari ketergantungan pada komoditas lama. Di sisi lain, pasar belum sepenuhnya yakin terhadap keberhasilan strategi baru tersebut.
Tahun 2026 pun menjadi periode krusial bagi BUMI. Fokus pada tambang emas membuka peluang besar di tengah tren global, namun tanpa eksekusi yang solid, tekanan terhadap saham bisa terus berlanjut. Bagi investor, ini bukan sekadar cerita ekspansi, tetapi ujian nyata apakah transformasi bisnis dapat mengubah nasib saham yang masih “babak belur” di pasar.
Tags: pt bumi fokus ke emas, PT Bumi Indonesia, bumi tambang
