Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000 Lagi, Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan

Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000 Lagi, Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan
Ilustrasi. Foto: Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000 Lagi, Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), membuat kurs dolar kembali bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sebelumnya sempat disentuh pada Juni lalu. Kondisi tersebut mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global. Investor masih mencermati berbagai sentimen, mulai dari prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, hingga dinamika ekonomi global yang memengaruhi arus modal ke negara berkembang. Faktor-faktor tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dinilai lebih aman.

Tekanan terhadap rupiah juga muncul bersamaan dengan melemahnya mayoritas mata uang Asia. Di saat yang sama, pasar saham kawasan bergerak cenderung negatif sehingga mencerminkan meningkatnya sikap risk-off di kalangan investor. Arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang menjadi salah satu faktor yang ikut menekan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, pelaku pasar masih menantikan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sebelumnya, bank sentral menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi di pasar valuta asing maupun pasar surat berharga negara guna meredam volatilitas rupiah apabila tekanan eksternal meningkat.

Analis menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global. Selama ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih bertahan dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Sebaliknya, apabila sentimen global membaik dan aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik, tekanan terhadap mata uang Indonesia berpotensi berkurang.

Pelemahan kurs juga menjadi perhatian pelaku usaha karena dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, dan barang modal. Di sisi lain, nilai tukar yang lebih lemah berpotensi memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau perkembangan pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan memastikan gejolak nilai tukar tidak mengganggu aktivitas ekonomi nasional.

Hingga perdagangan pagi berlangsung, dolar AS masih bergerak di dekat level Rp18.000, menjadikan batas psikologis tersebut kembali menjadi perhatian utama investor dan pelaku pasar. Arah pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi global serta respons pasar terhadap kebijakan moneter negara-negara utama.

News Writer | Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.