25°C Bali
May 14, 2026
Ekonomi finansial

FTSE Russell Bakal Tendang Saham HSC, BREN dan DSSA Terancam

Penyedia indeks global FTSE Russell berencana menghapus saham-saham Indonesia dengan kategori high shareholding concentration (HSC) dari indeks globalnya pada evaluasi Juni 2026. Keputusan tersebut membuat sejumlah emiten besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada dalam posisi terancam keluar dari indeks internasional. 

FTSE Russell menyatakan saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi dinilai memiliki risiko likuiditas dan kesulitan replikasi indeks bagi investor institusi global. Dalam evaluasi terbarunya, FTSE bahkan disebut akan menghapus saham kategori HSC dengan “harga nol” atau zero price deletion pada peninjauan indeks Juni 2026. 

Langkah tegas tersebut mengikuti kekhawatiran global terhadap kualitas free float dan transparansi pasar saham Indonesia. FTSE Russell juga memutuskan menunda penambahan saham baru, IPO, hingga kenaikan free float saham Indonesia setidaknya sampai September 2026 untuk memantau efektivitas reformasi pasar modal domestik. 

Saham BREN dan DSSA menjadi sorotan karena tingkat kepemilikan saham publik yang dinilai terlalu kecil. Data Bursa Efek Indonesia per Maret 2026 menunjukkan kepemilikan terpusat di saham BREN mencapai sekitar 97,31 persen, sedangkan DSSA sekitar 95,71 persen. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap likuiditas perdagangan di pasar reguler. 

Tekanan terhadap saham-saham kategori HSC sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Investor global mulai mengurangi eksposur setelah MSCI lebih dulu mengambil langkah serupa dengan menyoroti isu free float dan konsentrasi kepemilikan saham Indonesia. 

Penghapusan saham dari indeks global biasanya berdampak signifikan karena banyak dana investasi pasif dan exchange traded fund (ETF) menggunakan FTSE Russell maupun MSCI sebagai acuan utama portofolio mereka. Ketika saham keluar dari indeks, manajer investasi umumnya akan melakukan penjualan otomatis agar komposisi dana tetap sesuai benchmark. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kini tengah mempercepat reformasi pasar modal guna menjaga status Indonesia di indeks global. Sejumlah langkah yang telah dilakukan meliputi peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen hingga publikasi daftar saham HSC secara berkala. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan regulator terus berupaya memenuhi standar global agar integritas pasar modal Indonesia tetap diakui lembaga indeks internasional. Pemerintah berharap langkah reformasi tersebut dapat memulihkan kepercayaan investor asing terhadap pasar saham domestik. 

Meski tekanan jangka pendek diperkirakan masih berlanjut, sejumlah analis menilai pembenahan free float dan transparansi pasar justru dapat memperkuat kualitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Namun volatilitas saham kategori HSC diprediksi tetap tinggi hingga evaluasi FTSE Russell efektif diberlakukan pada Juni 2026.

News Writer | Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.