25°C Bali
May 19, 2026
Kerajaan Bisnis Salim Pernah Runtuh Saat Krisis 1998, Kini Bangkit Lagi
Ekonomi finansial

Kerajaan Bisnis Salim Pernah Runtuh Saat Krisis 1998, Kini Bangkit Lagi

Kisah jatuhnya kerajaan bisnis Salim Group kembali menjadi perhatian publik. Perjalanan dramatis konglomerasi milik Sudono Salim atau Liem Sioe Liong yang sempat berjaya selama lebih dari tiga dekade sebelum terpukul krisis ekonomi 1998. Grup bisnis yang pernah mendominasi sektor perbankan, makanan, hingga semen nasional itu runtuh hanya dalam hitungan hari saat Indonesia dilanda kerusuhan dan krisis multidimensi. 

Salim Group tumbuh pesat sejak era Orde Baru dengan dukungan ekspansi di berbagai sektor strategis. Kerajaan bisnis tersebut membangun dominasi lewat Bank Central Asia (BCA), Indocement, Bogasari, hingga Indofood yang menjadi pemain utama industri nasional pada masanya. Kedekatan Sudono Salim dengan Presiden Soeharto juga disebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi bisnis grup tersebut selama puluhan tahun. 

Namun situasi berubah drastis ketika krisis moneter Asia menghantam Indonesia pada 1997–1998. Nilai tukar rupiah anjlok, sektor perbankan kolaps, dan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional merosot tajam. BCA menjadi salah satu bank yang paling terdampak akibat aksi penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. 

Puncak krisis terjadi saat kerusuhan Mei 1998 melanda Jakarta dan sejumlah kota besar. Sentimen anti-Tionghoa membuat berbagai aset milik Grup Salim menjadi sasaran amuk massa. Rumah keluarga Salim di kawasan Jakarta Barat dibakar, sementara sejumlah kantor, cabang bank, hingga fasilitas bisnis lainnya rusak dan dijarah. Anthony Salim, putra Sudono Salim, bahkan disebut harus meninggalkan Indonesia demi alasan keamanan. 

Kerusakan paling besar terjadi di sektor perbankan. Pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) akhirnya mengambil alih BCA setelah kondisi keuangan bank tersebut dinilai tidak lagi mampu diselamatkan oleh grup pemilik lama. Selain itu, sejumlah aset strategis Salim Group juga berpindah tangan sebagai bagian dari restrukturisasi utang pascakrisis. 

Meski sempat runtuh, Salim Group perlahan bangkit di bawah kepemimpinan Anthoni Salim. Grup tersebut kembali memperluas bisnis melalui Indofood, sektor perkebunan, energi, infrastruktur, hingga teknologi digital. Saat ini, Salim Group tetap menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dengan portofolio bisnis lintas sektor. 

Kisah kejatuhan dan kebangkitan Salim Group dinilai menjadi gambaran penting mengenai bagaimana perubahan politik, krisis ekonomi, dan dinamika sosial dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis konglomerasi besar di Indonesia.

News Writer | Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.