
Di tengah tekanan pasar saham dan tingginya volatilitas global, pasar surat utang korporasi justru menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Sejumlah perusahaan ramai-ramai menerbitkan obligasi dan sukuk sebagai alternatif pendanaan di tengah kondisi pasar modal yang belum stabil.
Lembaga pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi tahun ini tetap solid di kisaran Rp154 triliun hingga Rp197 triliun, dengan titik tengah sekitar Rp176 triliun. Tingginya kebutuhan refinancing dan kebutuhan ekspansi menjadi pendorong utama meningkatnya penerbitan obligasi korporasi.
Chief Economist Pefindo Suhindarto mengatakan nilai obligasi jatuh tempo pada 2026 mencapai sekitar Rp162,72 triliun atau tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mendorong banyak perusahaan mencari sumber pembiayaan baru melalui pasar surat utang untuk menjaga likuiditas dan memperpanjang tenor utang.
Di sisi lain, kondisi pasar saham yang masih fluktuatif membuat sebagian emiten menunda aksi korporasi berbasis ekuitas seperti rights issue maupun penawaran umum perdana saham (IPO). Obligasi dinilai lebih menarik karena tidak menyebabkan dilusi kepemilikan saham dan menawarkan struktur pembiayaan yang lebih fleksibel.
Sejumlah emiten besar mulai aktif menerbitkan obligasi sejak awal tahun. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), hingga PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) termasuk perusahaan yang menyiapkan penerbitan surat utang untuk modal kerja dan refinancing.
Meski demikian, pasar obligasi korporasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN), pelemahan rupiah, dan sentimen risk-off investor asing masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar obligasi domestik. Kenaikan yield SBN juga berpotensi mendorong investor meminta kupon lebih tinggi terhadap obligasi korporasi.
Selain itu, gejolak eksternal seperti arah suku bunga The Fed dan konflik geopolitik global masih membayangi pasar keuangan Indonesia. Namun analis melihat obligasi korporasi tetap memiliki daya tarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif di tengah ketidakpastian pasar saham.
Dengan kebutuhan pendanaan yang besar dan tren penurunan suku bunga yang mulai terbuka, pasar surat utang korporasi diperkirakan masih akan menjadi salah satu sumber pembiayaan utama emiten sepanjang 2026.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.
