Ekspansi Agresif INET Belum Mampu Angkat Sentimen Saham

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) terus mempercepat ekspansi anorganik sepanjang 2026, mulai dari rencana akuisisi hingga penguatan jaringan infrastruktur digital. Namun langkah agresif tersebut belum berhasil mendongkrak kepercayaan pasar, tercermin dari pergerakan saham INET yang masih tertekan dalam beberapa bulan terakhir.
Emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi itu tengah mematangkan rencana akuisisi PT Sarana Global Indonesia (SGI) sebagai bagian dari strategi memperbesar bisnis konektivitas dan layanan digital. Sebelumnya, INET juga aktif melakukan aksi korporasi melalui rights issue jumbo untuk memperkuat modal ekspansi perusahaan.
Manajemen INET menargetkan dana hasil rights issue digunakan untuk pengembangan bisnis telekomunikasi, termasuk proyek kabel bawah laut atau submarine cable dan pembangunan fiber to the home (FTTH). Perseroan juga memperluas jaringan point of presence (POP) dan layanan data center interconnect guna memperkuat posisi di sektor infrastruktur digital nasional.
Meski ekspansi berlangsung agresif, pelaku pasar masih menyoroti sejumlah tantangan fundamental perseroan. Salah satu perhatian utama ialah valuasi saham yang dinilai sudah cukup mahal dibanding capaian kinerja keuangan saat ini. Berdasarkan data perdagangan, price to earnings ratio (PER) INET berada di kisaran 81 kali, jauh di atas rata-rata emiten telekomunikasi dan infrastruktur digital di Bursa Efek Indonesia.
Selain valuasi tinggi, investor juga mencermati risiko dilusi akibat rights issue dalam jumlah besar. Aksi korporasi tersebut memang memberi ruang ekspansi, tetapi sekaligus berpotensi menekan kepemilikan pemegang saham lama jika tidak diimbangi pertumbuhan laba yang signifikan.
Secara teknikal, saham INET juga masih bergerak dalam tren volatil. Setelah sempat melonjak tajam sepanjang 2025, harga saham perseroan mengalami koreksi cukup dalam pada awal 2026. Data perdagangan menunjukkan saham INET pernah menyentuh level tertinggi Rp710 sebelum kembali melemah ke kisaran Rp280-an.
Analis menilai prospek jangka panjang INET sebenarnya masih terbuka karena kebutuhan infrastruktur digital Indonesia terus tumbuh. Namun pasar saat ini cenderung menunggu bukti konkret bahwa ekspansi agresif perseroan mampu diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan profitabilitas yang berkelanjutan.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.
