25°C Bali
May 8, 2026
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, BI Ungkap Faktor Global Jadi Penyebab
Bisnis finansial

Rupiah Keok Lawan Dolar AS, BI Ungkap Faktor Global Jadi Penyebab

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menegaskan pelemahan mata uang Garuda bukan dipicu fundamental ekonomi domestik, melainkan akibat tekanan global yang semakin kuat. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Konflik yang melibatkan Iran disebut memicu perpindahan dana investor global ke aset aman seperti dolar AS. 

Selain faktor geopolitik, suku bunga tinggi bank sentral AS atau The Federal Reserve juga menjadi tekanan besar bagi mata uang negara berkembang. Tingkat imbal hasil aset dolar yang masih tinggi membuat arus modal asing keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. 

BI juga mencatat permintaan dolar AS meningkat pada April hingga Mei 2026 karena banyak perusahaan Indonesia melakukan pembayaran utang luar negeri dalam periode tersebut. Kondisi itu membuat kebutuhan valuta asing melonjak sehingga menambah tekanan terhadap rupiah. 

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai sentimen investor terhadap kondisi domestik ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Faktor seperti transparansi kebijakan fiskal, arah kebijakan pemerintah, hingga kondisi pasar keuangan disebut menjadi perhatian investor asing dalam beberapa bulan terakhir. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun offshore. Bank sentral juga memperketat aturan pembelian dolar AS guna menekan spekulasi dan menjaga likuiditas valuta asing nasional. 

Perry menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas 5 persen, inflasi terkendali, dan cadangan devisa dinilai memadai untuk menjaga stabilitas eksternal. 

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta memengaruhi inflasi domestik apabila berlangsung dalam waktu panjang. Pemerintah dan BI kini terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global yang belum mereda.

News Writer | Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.