Inflasi Indonesia April 2026 Turun ke Level Terendah

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi bulanan (month-to-month) hanya mencapai 0,13 persen, turun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,41 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami kenaikan tipis dari 110,95 menjadi 111,09 pada periode yang sama.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga pada kelompok makanan serta perumahan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan laju inflasi menjadi 3,06 persen, didorong oleh turunnya harga sejumlah komoditas seperti cabai, tomat, dan bawang. Sementara itu, kelompok perumahan dan utilitas hanya mencatat inflasi sebesar 0,74 persen setelah sebelumnya mengalami kenaikan lebih tinggi.
Di sisi lain, beberapa komoditas masih memberikan kontribusi terhadap inflasi, antara lain minyak goreng, tarif angkutan udara, serta bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga pada sektor transportasi dan restoran juga tercatat, meskipun dalam skala yang relatif terbatas.
Secara kumulatif, inflasi kalender hingga April 2026 tercatat sebesar 1,06 persen, sementara inflasi inti berada di level 2,40 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, mencerminkan stabilitas harga yang terjaga. Data tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar, yang sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan lebih tinggi.
Bank Indonesia menyatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang stabil dengan suku bunga acuan tetap di level 6 persen. Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa inflasi yang terkendali menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai lebih dari 5 persen pada 2026.
Penurunan harga pangan juga memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat, khususnya bagi kelompok rumah tangga menengah. Stabilitas harga ini turut didukung oleh kondisi pasokan yang membaik, terutama dari hasil panen di sejumlah daerah.
Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali dengan kisaran moderat pada Mei 2026, meskipun terdapat potensi risiko dari faktor musiman dan kondisi global. Pemerintah dan otoritas moneter optimistis stabilitas harga dapat terus dijaga guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
