25°C Bali
May 5, 2026
finansial Kebijakan Lokal

Program Kredit 5 Persen, NPL Berpotensi Naik di Bank BUMN

Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kredit berbunga maksimal 5 persen dinilai berpotensi memperluas akses pembiayaan, namun sekaligus memunculkan risiko peningkatan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bank pelat merah.

Kebijakan ini diarahkan untuk membantu masyarakat kecil memperoleh pinjaman dengan biaya lebih rendah. Namun, kalangan ekonom menilai implementasinya tidak sederhana karena suku bunga kredit ditentukan oleh berbagai faktor, seperti biaya dana, risiko kredit, biaya operasional, dan margin bank.

Jika penurunan bunga dilakukan tanpa perbaikan struktur biaya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan distorsi. Bank tetap menanggung biaya dana yang relatif tinggi, sementara pendapatan bunga turun, sehingga margin keuntungan bisa tergerus.

Dalam praktiknya, terdapat dua skenario utama. Pertama, selisih bunga ditanggung pemerintah melalui subsidi, yang berarti beban tambahan pada APBN. Kedua, jika ditanggung perbankan, maka profitabilitas bank berisiko tertekan karena net interest margin (NIM) menyusut.

Di sisi lain, risiko kualitas kredit menjadi perhatian utama. Kredit murah berpotensi mendorong ekspansi pembiayaan secara agresif, namun jika tidak disertai seleksi ketat, hal ini dapat meningkatkan potensi gagal bayar. Secara historis, rasio NPL pada kredit bersubsidi memang relatif rendah, tetapi dapat meningkat ketika ekspansi dilakukan di tengah tekanan ekonomi.

Ekonom memperingatkan adanya potensi moral hazard, di mana kredit murah bisa dianggap sebagai fasilitas yang tidak sepenuhnya berbasis komersial. Kondisi ini dapat menurunkan disiplin pembayaran debitur dan meningkatkan risiko pemburukan kualitas aset bank.

Sejumlah bank BUMN menyatakan siap mendukung kebijakan tersebut, namun menekankan pentingnya desain program yang matang. Penyaluran kredit tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian, termasuk melalui seleksi debitur yang ketat dan pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan.

Untuk meminimalkan risiko, penguatan sistem penilaian kredit berbasis data, skema penjaminan yang adaptif, serta integrasi dengan ekosistem usaha dinilai menjadi kunci. Tanpa langkah tersebut, kredit murah berpotensi menjadi kebijakan populis yang menekan stabilitas perbankan dalam jangka panjang.

News Writer | Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.